Sumber daya alam yang melimpah, harga yang murah dari batu bara membuat sumber energi ini menjadi andalan di Indonesia hingga saat ini. Dengan harapan agar listrik dapat terjangkau dan mampu menggerakkan lini ekonomi negara. Disisi lain pencemaran terhadap lingkungan dari sumber energi listrik yang berasal dari batu bara melalui PLTU sangatlah mengkhawatirkan. Asap buangan PLTU mengandung emisi karbon yang berbahaya bagi lingkungan sekitar.

PLTU yang merupakan penyedia energi listrik terbesar di Indonesia harus melakukan terobosan terkait pengendalian emisi untuk menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat disekitar wilayah PLTU.

Lalu teknologi apa saja yang telah diterapkan di PLTU agar bisa ramah lingkungan? berikut penjelasannya:

1. CEMS (Continuous Emission Monitoring System)

CEMS merupakan sebuah terobosan teknologi untuk monitoring emisi secara berkelanjutan. Teknologi ini sudah terpasang di setiap PLTU berkapasitas 25 Megawatt (MW) guna melakukan pengendalian emisi secara real time.

2. Co-Firing

Credit: Bio-Pellet-Plant

Salah satu langkah yang tepat dari PLN untuk mensukseskan target pemerintah terkait dengan bauran energi baru terbarukan (EBT). PLN menghadirkan program Co-Firing, yakni sumber energi yang berasal dari campuran biomassa dan batu bara.

Program ini terus dikembangkan dan telah dilakukan uji coba di beberapa PLTU seperti PLTU Belitung dan Ketapang yang menggunakan cangkang kelapa sawit, hingga PLTU Indramayu yang menggunakan pellet kayu. Dengan harapan dapat meningkatkan bauran energi nasional juga menggalakkan energi berkelanjutan (renewable energy).

3. Teknologi Rendah Karbon (Super Critical dan Ultra Super Critical)

Credit: TMR Blog

Isu ramah lingkungan yang terus bergulir terkait PLTU membuat PLN terus berinovasi untuk mengatasi hal tersebut, melalui penggunaan teknologi Super Critical dan Ultra Super Critical. Teknologi ini mampu menurunkan angka emisi gas buang menjadi lebih rendah dan mampu meningkatkan efisiensi pembangkit listrik hingga mencapai 15%.

2. FGD (Flue Gas Desulfurization

Credit: General Electric

Teknologi desulfurization gas buang digunakan untuk menghilangkan sulfur dioksida (SO2) dari emisi gas pembuangan PLTU. Penerapan FGD menjadi salah satu upaya PLN dalam menjawab tantangan terkait pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

FGD merupakan proses pencampuran emisi gas hasil pembakaran batu bara dengan batu kapur basah agar kandungan SO2 yang dilepaskan menurun, sehingga tidak mencemari udara.

5. FGD (Selective Catalytic Reduction)

Credit: Cleaver Brooks

SCR digunakan sebagai pengontrol nitrogen oksida. Teknologi ini menjadikan bentuk upaya PLN untuk meminimalisir emisi gas buang. SCR mampu mengurangi dan mengubah emisi NOx menjadi menjadi partikel tidak berbahaya.

Hadirnya teknologi diatas menjadi angin segar dalam pemenuhan energi listrik di Indonesia. Bagaimana menarik bukan? Nantikan artikel menarik lainnya hanya di elgie.id

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email