Ini Dia Negara Yang Sudah Sukses Memanfaatkan Sampah

negara yang memanfaatkan sampah
Credit : Freepik

Sampah merupakan hal yang tidak pernah habis untuk dibahas di negara kita ini, Indonesia. Sampah seakan menjadi sebuah candu yang jika dibiarkan terus menerus akan menggerogoti tubuh yang sehat dan pada akhirnya akan menjadi sebuah masalah besar di kemudian hari. Di Jakarta saja, rata-rata produksi sampah tiap harinya dapat menyentuh angka 8.726 ton. Sampah sampah tersebut kemudian akan dibuang ke tempat persemayaman terakhir yaitu TPA Bantar Gebang.


Namun tidak demikian dengan Swedia. Negara yang terletak di hampir ujung utara bagian bumi ini dikenal mampu mengolah sampah menjadi sebuah energi. Istilah kerennya WTE (waste-to-energy). Tercatat sekitar 83% dari sumber pembangkit listrik di negara tersebut sudah rendah karbon, yang mana 63% dari semua itu sudah berasal dari energi terbarukan.

Pada umumnya negara negara dunia memanfaatkan komponen tenaga angin, tenaga air, dan juga tenaga surya sebagai sumber energi terbarukan dalam menghasilkan energi listrik. Namun memanfaatkan sampah sampah sebagai sumber penghasil energi listrik masih jarang dijumpai di negara negara dunia, kecuali di Swedia. 

 

Swedia adalah negara yang mampu mengolah sampah secara baik dan juga optimal. Hampir sekitar 99% dari sampah di negara ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan daur ulang dan juga sebagai sumber energi. Swedia merubah sampah menjadi sebuah energi panas untuk kurang lebih 10 juta rumah tangga selama musim dingin dan 680 ribu rumah tangga dapat teraliri listrik dengan memanfaatkan sampah.

negara yang memanfaatkan sampah
Credit : lingkungan.lovelybogor.com

Sejumlah 34 sumber pembangkit listrik di swedia sudah memanfaatkan sampah sebagai sumber energi listrik. Sampah terlebih dahulu dipisahkan berdasarkan kategori sebelum akhirnya dimanfaatkan sebagai sumber energi. Sederhananya sampah yang sudah dipilah kemudian akan dibakar di dalam insinerator untuk menghasilkan panas. Panas yang dihasilkan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan uap yang akan digunakan untuk memutar turbin sebagai generator penghasil energi listrik. 


Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Columbia University pada tahun 2003, fasilitas pembangkit listrik WTE (waste-to-energy) menghasilkan emisi sulfur dioksida, materi partikulat, dan nitrogen yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pembangkit listrik dengan batubara sebagai sumber penghasil panas. Selain itu pembangkit listrik WTE juga menghasilkan dioksin (polutan yang menyebabkan penyakit kanker) yang lebih rendah dibandingkan dengan batubara.

Pembangkit listrik WTE dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dikarenakan menghasilkan emisi CO2 yang lebih rendah jika dibandingkan dengan sumber energi yang lainnya seperti batubara, minyak bumi, dan juga gas alam. Tercatat untuk setiap MWh listrik yang dihasilkan, pembangkit listrik WTE hanya menghasilkan 481 kg emisi CO2, sedangkan batubara, minyak, dan gas alam berturut turut menghasilkan sebanyak 1020 kg, 758 kg, dan 514 kg emisi CO2.

 

Lalu pertanyaannya adalah apakah Indonesia mampu mengikuti jejak Swedia dalam memanfaatkan sampah menjadi sumber energi listrik? Hal nomor satu yang masih menjadi kendala di negara tercinta kita ini adalah bagaimana tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakat dalam memilah jenis sampah yang ada. Bukannya tidak dilakukan, bahkan kita sudah melihat tempat sampah yang sudah dibagi menjadi beberapa kategori. Namun sayang seribu sayang, masyarakat masih acuh dalam memilah sampah tersebut. Karena salah satu kunci utama dalam WTE ini adalah jenis sampah yang akan dimanfaatkan sebagai sumber bahan bakar.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on email